Gempa Juga Tsunami di Palu, Donggala dan Sigi Sulteng, Duka Kita Bersama

oleh

SULTENG, Palu. Katasatu.com – Duka Palu, Donggala dan Sigi adalah duka kita bersama, yang saat ini dirasakan oleh rakyat Indonesia. Pulau Sulawesi khususnya  pasca peristiwa gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. (Senin, 8/10/2018)

Guncang dahsyat dan tsunami di tiga kabupaten Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat 28 Oktober 2018. Sejumlah fasilitas umum milik pemerintah, swasta dan pribadi hancur, yang membuat hati terasa pilu, sedih hingga kucuran air mata tumpah tak terbendung.

Hati dan jiwa putra putri Indonesia dari berbagai daerah terpanggil, dengan satu tujuan, menjadi relawan, berjuang dibawah teriknya matahari, melewati jalan kerikil lagi terjal, serta jalan yang terbelah akibat guncangan gempa demi kemanusiaan, guna memberikan pertolongan, agar dapat menyelamatkan nyawa para pengungsi di Palu, Donggala juga di Sigi.

Di Kota Palu, Kompleks Perumnas Balaroa hancur diguncang gempa dan lumpur, Hotel Roa Roa dan pusat perbelanjaan, Ramayana ambruk. Deretan rumah di Pantai Talise disapu tsunami serta di Kabupaten Sigi jalan raya terpotong dan tanah terbelah.

Demi bertahan hidup, bagi warga yang selamat dari musibah itu, memutuskan untuk mengungsi ketempat yang lebih aman, dengan mendirikan tenda di area terbuka. Tangisan sang ibu dan ayah, juga rintihan anak – anak menghiasi gelapnya malam, lantaran padamnya listrik.

Lebih seminggu telah berlalu, sejak gempa dan tsunamk 28 September 2018, dibeberapa kecamatan dan desa di Kabupaten Sigi, Sulteng. Suara akan keluhan para pengungsi masih terdengar, teriakannya meminta sembako, bahan makanan juga obat-obatan.

Relawan yang telah tiba di Sulawesi Tengah, tak punya waktu banyak, mereka langsung bekerja dengan keahlian masing-masing. Bantuan logistik berupa makanan, mi instan, beras, air mineral juga kebutuhan darurat lainnya berdatangan, masuk ke Sulteng untuk para korban bencana gempa dan tsunami.

Sepenggal cerita, Awi Celebes, Jurnalis asal Sulawesi Selatan mengatakan. Selama di Palu melakukan kegiatan sosial kemanusiaan dan peliputan, banyak mendengar berbagai cerita dari para pengungsi, yang melihat langsung bagaimana situasi juga kondisi para korban gempa dan tsunami.

” Berbagai kisah dan keluh Korban gempa ditenda pengungsian, baik yang telah kehilangan tempat tinggalnya, apalagi yang kehilangan sanak familinya.” ucap Awi Celebes

” Ibu HS (27) warga Petobo yang mengungsi ke Desa Ojobulo Kecamatan Mariomaru Kabupaten Sigi, harus menerima ujian yang begitu berat, mengalami patah kaki, luka pada wajahnya.Bahkan lebih pilunya lagi harus ihklas dan tabah kehilangan orang yang dicintainya, suami juga anaknya,” cerita Awi Celebes dengan nada sedih.

Diceritakannya lagi oleh Awi Celebes, 1. 471 unit rumah di kompleks Perumnas Balaroa hancur, rata dengan tanah, yang penduduknya diperkirakan sekitar 5000 ribu jiwa dengan 800 Kepala Keluarga.

” Dari data yang di pasang pada papan informasi Posko Madinah 517, menuliskan ada 1.471 unit rumah dengan 5000 jiwa penduduk yang berkisar 800
kepala keluarga.”

“Semoga dengan kehadiran teman-teman relawan juga bantuan logistik dari sejumlah daerah di tanah air juga mancanegara, dapat meringankan beban serta duka para korban gempa dan tsunami di tenda pengungsian, dan berharap infrastruktur pelayanan umum segera kembali seperti semula, Amin.” Tutup Awi Celebes.

Penulis : Dedy

Bersambung…