Ingin Merdeka TPNPB Akui Lakukan Penyerangan, Begini Cerita Kesaksian Korban Penembakan

oleh -25 views

NASIONAL, Katasatu.com – Menamakan dirinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang berada di bawah komando Egianus Kogoya dengan terang mengakui jika yang melakukan penyerangan adalah pihaknya. Jumat, 7/12/2018.

Pengakuan Egianus Kogoya sebagai Komando TPNPB, mengatakan, jika pihaknyalah sebagai kelompok penyerangan, yang melakukan pembunuhan terhadap satu orang anggota TNI dan 19 orang pekerja pada proyek jembatan di Kabupaten Nduga, Papua Barat.

Dikutip dari laman www.merdeka.com, dua hari terakhir, juru bicara TPNPB Sebby Sambom mengaku sibuk menerima telepon dari jurnalis Indonesia. Telepon genggamnya tak berhenti berdering.

“Maaf beberapa hari ini saya banyak interview dengan wartawan,” ungkap Sebby Sambom saat berbincang dengan jurnalis merdeka.com, Kamis (6/12/18).

Kepada jurnalis merdeka.com, juru bicara (Jubir) TPNPB Sebby Sambom bercerita banyak hal. Mulai dari motif penyerangan, hingga kekuatan tentara pembebasan Papua Barat.

“Kami tidak suka Pemerintah Indonesia membangun proyek di Papua karena itu sebagai bentuk penjajahan,” kata Sebby Sambom jubir TPNPB

Masih dari laman www.merdeka.com, untuk lebih lengkapnya ikuti, wawancara jurnalis merdeka.com bersama Sebby melalui sambungan telepon internasional.

T: Anda dan kelompok TPNPB yang melakukan penyerangan dan pembunuhan di Papua?

J: Iya kami yang melakukan, militer OPM. Kami menamakan TPNPB. Di Papua tidak ada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau sejenisnya seperti yang dibilang Polisi Indonesia. Kami Tentara.

T: TPNPB bertanggung jawab atas pembunuhan ini?

J: Jangan salahkan kami. Itu tanggung jawab TNI. Karena mereka menggarap proyek Trans Papua. Itu proyek mereka. Kami hanya melawan penjajahan Indonesia yang dilakukan lewat berbagai sektor, penguasaan sektor ekonomi, bisnis dan lain-lain. Tahun lalu, kami juga lakukan penyerangan sebagai peringatan agar setop bangun di Papua. Tapi tidak setop juga, mereka kembali buat proyek lagi. Dan itu kebanyakan TNI. Jadi itu tanggung jawab TNI.

T: Kenapa Anda menyerang dan membunuh sipil?

J: Mereka itu militer Indonesia. TPN identifikasi, mayoritas pekerja adalah intelijen dan anggota TNI berpakaian preman. Mereka diback up oleh pos TNI di Mbua.

T: Anda tahu dari mana mereka tentara?

J: Trans Papua itu dibangun TNI, sudah bukan rahasia. Seluruh orang Papua tahu itu. Joni yang mereka sebut selamat dari penyerangan itu adalah anggota TNI. Kami punya data otentik. Kami sudah amati tiga bulan. Kebanyakan pekerja di sana militer Indonesia. Jangan salahkan TPNPB, salahkan TNI siapa suruh kau laksanakan proyek.

T: Apa bener TPNPB mengikat korban lalu ditembaki dan digorok?

J: Itu kan versi polisi. Kami hanya melakukan penyerangan.

T: Penyerangan seperti apa?

J: Ya menyerang kamp mereka, menembaki. Kami tidak eksekusi, bantai, dan tidak ada penyanderaan.

T: Berapa banyak korban yang dibunuh TPNPB?

J: Laporan yang kami terima, di situ ada 31 orang, termasuk yang lari. Yang meninggal, dari laporan kami, 24 orang. Itu belum termasuk 1 tentara yang meninggal di pos 2. Pos itu tempat kumpul pekerja proyek, kebanyakan TNI.

T: Apa motif penyerangan yang dilakukan TPNPB?

J: Jelas karena mereka membangun proyek sebagai bentuk penjajahan, dominasi berbagai sektor dan pendudukan Indonesia. Jalan-jalan dibangun untuk memudahkan TNI masuk ke Papua, karena mereka akan kesulitan kalau di hutan. Kami tahu strategi itu.

T: Analisa Anda itu dari mana?

J: Kami punya intelijen. Di Jakarta pun kami punya intelijen. Pasukan kami. Namanya Papua Intelijen Service atau PIS.

T: Anggotanya berapa?

J: Itu rahasia negara. Tidak bisa kami beritahu. Orang berjuang itu pasti punya sistem intelijen.

T: Saat ini TNI dan Polri sedang memburu kelompok Anda. Anda akan menyerah?

J: Kami punya hutan, punya alam. Kami tidak akan menyerah. Indonesia menjajah kami sejak tahun 1963 sampai sekarang, kami tidak pernah menyerah. Selama 55 tahun kami berjuang terus. Yang tua meninggal, yang muda melanjutkan. Karena semua orang Papua mau merdeka.

T: Kenapa Anda yakin semua orang Papua mendukung OPM?

J: Kami ada anggota tetap dan tidak tetap. Ada 2.500 personel di setiap kodim. Kalau kami mau revolusi total untuk kemerdekaan, rakyat pasti mau dukung OPM. Selama ini mereka hanya tipu-tipu saja pemerintah Indonesia. Biar dapat duit banyak. Setiap kali bilang mau merdeka, pasti langsung dikasih uang, dana otonomi.

T: Anda akan terus melawan pemerintah dan TNI/Polri?

J: Kami biasa bergerilya. Kami hit and hide. Menyerang dan menghilang. Kita akan tetap bergerilya. Mereka (TNI/Polri) datang, silakan saja. Kami hanya khawatir yang jadi korban masyarakat sipil,.

T: Maksudnya seperti apa?

J: Ya yang jadi korban (tentara) masyarakat Papua, bukan kami. Yang ditangkap dan ditembak tentara masyarakat sipil. Karena kami biasa menghilang setelah menyerang.

Sementara informasi lain, dikutip dari dari laman Tempo.co.id terbitan Kamis 6/12/2018, menjelaskan, Saleh, seorang pekerja bangunan SMP dan Puskesmas di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua menjadi salah satu orang yang selamat dalam penyerangan pos TNI di Mbua. Usai dievakuasi ke kantor Batalyon 756/WMS, ia menceritakan kejadian penyerangan pada Senin lalu itu.

Saleh menuturkan penyerangan terjadi pada Senin pagi, 3 Desember lalu setelah terjadi penembakan sejumlah pekerja di Distrik Yall. Ia bersama sejumlah anggota dan pekerja lainya mengosongkan pos sekitar pukul 23.00 WIT.

“Setelah kami kosongkan pos karena diserang itu, kami lari ke hutan sambil membawa jenazah anggota TNI yang tewas tertembak untuk menyembunyikan jenazah,” kata Saleh.

Selama menyelamatkan diri itu, Saleh bersama rekan pekerja bangunan lainnya lari sambil bergantian membawa jenazah anggota TNI yang tewas ke arah Wamena. “Kami menyelamatkan diri dari jam lima pagi hingga jam 7 malam sampai bisa ditemui tim aparat gabungan yang sudah tiba di Mbua. Yang menyerang kita ini ada mungkin puluhan orang,” ujarnya.

Seorang saksi lainnya, Makbul yang menjadi pekerja bangunan SMP Mbua mengungkapkan pos TNI Mbua diserang mulai pukul 05.00 pagi waktu setempat dan terjadi kontak senjata hingga malam hari pukul 19.00.

“Pada saat penyerangan pos TNI itu, kebetulan ada empat orang yang berhasil lolos saat penembakan di distrik Yall yang kabur ke pos TNI sehingga kami diserang,” kata Makbul.

Saat penyerangan pos, kata Makbul, ada sejumlah pekerja yang terkena tembakan, lemparan batu dan penganiyaan lainnya. Ada pula yang pura-pura meninggal dan semuanya berhasil lolos. “Kita bergantian pikul jenazah sambil melarikan diri, kalau kita tidak lari semua pasti jadi korban,” ujarnya.

Sejauh ini, tim gabungan TNI dan Polri menemukan 16 jenazah yang menjadi korban meninggal insiden penembakan oleh kelompok bersenjata. Insiden penembakan pekerja oleh kelompok bersenjata di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Nduga, Papua, terjadi pada Senin, 3 Desember 2018. Kelompok yang bertanggung jawab atas insiden ini adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat pimpinan Egianus Kogoya, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sumber : Merdeka.com / Tempo.co.id

Editor : D3y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.