Katasatu.com

Sumber Inspirasi Rakyat

Jalin Komunikasi, Pemkab Luwu Utara “Bincang Siang” Dengan Jurnalis

3 min read

KATASATU.COM | LUWU UTARA – Berbagai cara komunikasi antara jurnalis dengan pejabat daerah intens dilakukan untuk menjalin silaturrahmi serta keakraban antara sesama.

Seperti halnya yang dilakukan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Luwu Utara, Abd Mahfud serta Kadis DP2KUKM, Muslim Muchtar serta Kepala Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil (Kadisdukcapil) Luwu Utara, Mas’ud Masse.

Bila biasanya pejabat lebih sering menggelar “coffee morning” untuk berdiskusi dengan jurnalis, kali ini tidak dengan Sekda dan Kepala Dinas.

Mereka memilih berdiskusi siang hari, sambil “ngopi” bareng bersama sejumlah wartawan. Meski judulnya sama-sama minum kopi namun topik yang dipilih yakni “bincang siang”.

Lokasinya pun bukan tempat pilihan yang mewah. Melainkan, salah satu warung kopi sederhana di Kantin Pemkab, belakang kantor gabungan dinas Kabupaten Luwu Utara.

Berbagai hal tentang Luwu Utara yang dibahas lewat acara “bincang siang” tersebut. Mulai dari dukungan ke KPU tentang kepemilikan KTP jelang pemilu serta kelangkaan dan mahalnya harga gas elpiji 3 Kg.

“Jadi pertemuan ini juga bermaksud untuk menghimbau warga untuk segera melakukan perekaman e-KTP bagi yang belum punya sebelum memasuki tahapan pemilu yang akan datang,” ungkap Kadis Dukcapil Luwu Utara, Selasa (4/9/2018).

Ia juga katakan bahwa pada Pemilu mendatang bahwa surat keterangan (suket) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk daftar pemilih tambahan (DPTb) tak lagi bisa digunakan untuk memilih.

Disisi lain, Kepala Dinas (Kadis) Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (DP2KUKM) Kabupaten Luwu Utara, Muslim Muhtar menjelaskan tentang kelangkaan serta mahalnya harga gas elpiji 3 Kg di Luwu Utara.

“Terkait masalah harga, ini akibat ulah pangkalan nakal yang menjual gas Refill elpiji 3 Kg kepada pengecer yang tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi yang ditentukan oleh pemerintah,” ujar Muslim.

Masih menurut Muslim bahwa hal itulah yang menjadi dasar bagi pengecer sehingga seenaknya menjual kepada konsumen sampai mematok harga tidak sesuai HET.

Kendati demikian, menurutnya sudah ada beberapa pangkalan gas elpiji yang sudah ia tindaki sampai melakukan penutupan. Hal tersebut ia lakukan berdasarkan ketentuan regulasi yang ada.

Disinggung masalah pengawasan, jika masih ada pangkalan atau pengecer yang menjual menyalahi ketentuan, pihaknya akan terus proaktif lakukan penindakan.

“Saat ini kita tetap intens lakukan penindakan, apalagi kita sudah kerjasama dengan kepolisian, jadi apabila ada warga temukan pangkalan ataupun pengecer yang menjual elpiji 3 Kg tidak sesuai harga HET agar laporkan ke kami,” pungkas Mursalim.

Sementara itu, Sekda Luwu Utara, Abd Mahfud mengusulkan ke DP2KUKM agar menindak lanjuti pertemuan yang sudah pernah dilakukan kepada seluruh stakeholder terkait masalah elpiji tersebut.

Ia sarankan agar membuat surat edaran terkait pelarangan menjual harga elpiji diatas HET. Kemudian untuk pengawasan ditingkat desa maupun kelurahan agar menghimbau camat, kades maupun lurah untuk melakukan pengawasan.

“Saya berharap, Camat, Lurah maupun Kepala Desa agar menjadi pengawas di daerahnya terkait masalah mahalnya harga elpiji 3 Kg di masyarakat. Itu harus dilakukan karena sudah sangat meresahkan masyarakat,” ungkap Mahfud.

“Untuk setiap agen, pangkalan maupun pengecer, wajib melampirkan harga elpiji 3 Kg di tempat usahanya agar mudah dipantau, jika tidak maka harus diberi penindakan,” kunci Sekda.

Diketahui, harga elpiji 3 Kg di Luwu Utara mencapai Rp.28.000 – Rp.35.000,-. Padahal  harga eceran tertinggi (HET) di Luwu Utara adalah Rp 17.200 per tabung.(*)

Penulis :Ari Laupe