Orang yang Putus Sekolah, Ketua PKBM Kota Parepare; PKBM Solusinya

oleh

KATASATU.COM | PAREPARE – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat untuk masyarakat yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional.

Seperti yang dilakukan PKBM Kota Parepare, dimana lembaga ini cukup eksis membantu warga yang telah putus sekolah. Yang mana tiap tahun ajaran selalu mengadakan ujian kejar paket A, B dan C melalui PKBM Insani dan PKBM Sipakainge serta beberapa PKBM yang ada di Kota Parepare.

Ketua PKBM Kota Parepare, Sugiarto, Spd. Mpd yang ditemui katasatu.com di ruang kerjanya mengatakan bahwa hal itu bisa terwujud karena adanya program pemerintah melalui kejar paket yang dinilai sangat membantu masyarakat putus sekolah.

“Kejar paket atau sekolah kesetaraan adalah solusi bagi mereka yang putus sekolah. Ketentuan mengenai kesetaraan ini diatur dalam Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 26, ayat (6), untuk itu hal ini sangat membantu masyarakat yang putus sekolah”, pungkas Sugiarto, Rabu (1/8/2018).

Sugiarto bahkan menambahkan bahwa orang yang putus sekolah menurutnya bukan bodoh atau tidak punya ‘IQ’, namun mereka terpengaruh lingkungan atau beberapa faktor sehingga mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka di sekolahnya.

“Saya sangat berharap, agar kiranya masyarakat atau orang tua yang mempunyai anak putus sekolah, segera bawa anaknya ke PKBM, karena disana di PKBM, mereka juga di ajar. Ini sangat membantu mereka nantinya untuk mencari pekerjaan dan bahkan malah banyak yang lanjut ke perguruan tinggi”, terang Sugiarto seraya mengajak.

Masih menurut Sugiarto bahwa ada juga warga belajar paket C yang jadi anggota DPRD namun mereka melanjutkan di perguruan tinggi. “Adanya program pemerintah melalui kelembagaan yaitu PKBM ini sangat membantu mereka untuk mencari kerja, dan salah satu program pemerintah untuk mengurangi pengangguran dan buta huruf”, tutup Sugiarto.

Laporan : Burhan Rani.

Editor : Arie Laupa