Sistem Penggajian Guru Honorer Di Toraja Utara, Sangat Menyedihkan

KATASATU.COM | TORAJA UTARA. Lagi gaji guru tenaga honorer di Toraja Utara menjadi polemik yang tak ada titik penyelesaiannya.

Hal inipun kembali jadi soal yang sejak tahun 2016 sudah menjadi masalah, dan tahun ini masih berpolemik persoalan upah atau honor mereka dimana tahun kemarin 2017 sempat tertunda pembayarannya sehingga dibayarkan di tahun 2018.

Terkait gaji inipun juga yang tahun kemarin untuk tenaga guru di anggarkan 1 juta dalam APBD yang hanya dibayarkan 900.000 rupiah perbulan.

Dan pembayaran gaji honorer lingkup Pendidikan Toraja Utara ini juga menjadi pertanyaan karena sudah berubah sistemnya yang tahun 2015 sampai 2016 melalui rekening pribadi para tenaga honorer tapi di tahun 2017, pembayarannya secara tunai di dinas Pendidikan.

Ini jelas suatu kemerosotan atau kemunduran sistem dalam proses pembayaran gaji para pegawai honorer di dinas Pendidikan Toraja Utara.

Gaji mereka inipun juga membuat kegelisahan di kalangan para guru honorer setelah Surat Keputusan (SK), dengan Nomor 814.1.4 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Pada Dinas Pendidikan Tahun 2018 di terima yang sebagian SK dicantumkan besaran gaji perbulan sedangkan yang lain tidak ada besarannya tapi hanya tertulis dihitung perjam dan besaran perjamnya itupun juga tidak jelas berapa dalam SK tersebut.

“Kalau dihitung berdasarkan jam mengajar ya kami rugi dong yang mengajar di SMP dan ini bukan lagi mensejahterakan tapi memiskinkan kami”, ungkap AS dan FP, salah satu guru honorer di salah satu SMP. Senin (7/5/2018)

Ditambahkan FP bahwa jika besarannya memang benar Rp. 6,250,- perjam untuk guru di SMP maka kami benar-benar rugi, apalagi jarak tempuh tempat tinggal dengan tempat mengajar sangat jauh dan itu malah habis di biaya bahan bakar kendaraan.

“Contohnya saya ini yang mengajar di SMP yang hanya 24 jam sebulan, jadi hanya akan terima gaji sebesar Rp. 150.000 perbulan karena tidak ada jam tambahan di sekolah  lain dan beda dengan guru honorer di SD semua rata Rp. 600,000 perbulan. Kok parah sekali penurunan upah kami yang guru SMP dan serendah inikah status kami sebagai honorer ?”, tandas FP.

Ini benar-benar memilukan hati para guru honorer di Toraja Utara yang tiap tahun silih berganti permasalahan yang dihadapi disaat mereka mengajar calon generasi penerus dan pemegang tongkat estafet dikemudian hari.

Pertanyaan muncul dalam benak kita bahwa inikah harapan meningkatkan mutu pendidikan di Toraja Utara sedangkan di satu sisi pendidik seolah dipermainkan padahal mereka membekali pengetahuan kepada anak- anak kita demi impian suatu saat nanti  jadi anak yang berbakti demi Nusa dan Bangsa. (Abe/Awi)